SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI PEMERINTAH KABUPATEN SEMARANG, INFORMASI PUBILK: HAK ANDA UNTUK TAHU!!,

Bupati Semarang

 Dr.H.Mundjirin ES, SpOG

Wakil Bupati Semarang

     Ngesti Nugraha, S.H, M.H

CONTACT US

 

PPID Pemerintah Kabupaten Semarang

Jl. Diponegoro No. 14 Ungaran

Telp./Fax. (024) 76901553

Email : kominfo@semarangkab.go.id

 

 

PENGADUAN ONLINE

MEDIA SOSIAL

STATISTIK PENGUNJUNG

37409
HARI INIHARI INI18
KEMARINKEMARIN74
MINGGU INIMINGGU INI483
BULAN INIBULAN INI1426
SELURUHNYASELURUHNYA37409

OPEN DATA PROV JATENG

FOTO KEGIATAN

Loading

«
»
  1. 0
  2. 1
  3. 2
  4. 3
  5. 4
  6. 5
  7. 6
  8. 7

Ungaran - Bergas : 

Seperti ungkapannya Gus Dur, orang tak akan bertanya apa agamamu, apa sukumu ketika berbuat baik. Dalam masa perjuangan setelah kemerdekaan ini sudah semestinya kita tidak membedakan suku, agama atau pun ras. Tak peduli warna kulit, rambut, jenis kelamin, kaya atau pun miskin. Semua sama di mata negara. Founding fathersbangsa ini telah memberi contoh lewat laku, bukan sekadar gembar gembor persatuan. Mereka berdarah-darah menegakkan kemerdekaan.

Sebenarnya kita pun mewarisi semangat itu. Namun karena kadang kita memupuk borok dalam dada, membuat kita terlena hingga dengan rasa tanpa dosa saling menghina dan mencerca, bahkan ada nekat hendak mengganti Pancasila.

Siapa yang mempermasalahkan Agustinus Adisucipto sebagai pahlawan? Apakah karena beliau seorang Katolik, lantas yang dari Hindu, Budha, Islam, Kristen dan Kong Hu Chu menggerutu?.

Kemudian Albertus Soegijapranata. Beliau merupakan uskup pribumi pertama di Indonesia. Bahkan karena nasionalismenya keras, beliau tidak henti-hentinya mengagungkan semboyan "100% Katolik, 100% Indonesia" dan ungkapan itu terus berdengung hingga kini.

Lantas mari kita tengok pahlawan dari Budha, yang merupakan saudara kita sendiri dari Banyumas, Letjen Gatot Subroto.

Yang tidak kalah penting perannya dalam perjuangan adalah saudara-saudara kita dari Tionghoa. Ada Yap Tjwan Bing lahir pada 31 Oktober 1910 di Solo. Beliau merupakan satu-satunya anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dari Tionghoa dan turut hadir dalam pengesahan UUD 1945 dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 18 Agustus 1945.

Ada pula Liem Koen Hian merupakan salah satu anggota dari Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Bahkan beliau jadi salah satu inspirator Bung Karno ketika pidato di majelis BPUPKI tentang berdirinya negara yang tanpa berasaskan ras maupun agama.

Dan sepatutnya kita pun berterima kasih pada tokoh keturunan Arab, Faradj bin Said bin Awak Martak. Pedagang kelahiran Yaman Selatan ini dengan berani menyediakan rumahnya di Pegangsaan Timur No 56 sebagai  lokasi proklamasi kemerdekaan RI.

Demikian antara lain, sambutan tertulis Gubernur Jawa Tengah  H Ganjar Pranowo SH MIP yang disampaikan Bupati Semarang dr H Mundjirin ESSpOG, saat Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia dan Detik-Detik Proklamasi di lapangan Stadion Pandanaran, Wujil Bergas, Kabupaten Semarang, Sabtu (17/8).

Lebih lanjut dikatakan, lantas siapa yang mempermasalahkan kepahlawanannya I Gusti Ngurah Rai, Untung Suropati, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy'ari karena agamanya? Bibit jiwa kita adalah bibit tepo sliro, bibit andarbeni, bibit paseduluran.

“Pancasila sebagai dasar Republik adalah harga mati. Tidak bisa ditawar dan harus kita tanam sedalam-dalamnya di Bumi Pertiwi. Pancasila inilah sebagai induk semangnya negara ini, yang di dalamnya bersemayam ajaran-ajaran agama: Hindu, Budha, Islam, Katolik, Kong Hu Chu dan Kristen. Yang di dalamnya bersemayam spirit-spirit berasaskan kebudayaan Nusantara. Kalaulah sistem pemerintahannya pernah berubah, toh akhirnya jiwa-jiwa yang telah menyatu dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote tidak bisa dipisahkan,“ sebutnya.

Sejarah mencatat, kata Ganjar, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 sistem pemerintahan sempat berganti menjadi Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949. Namun akhirnya sejak 17 Agustus 1950 Tanah Air ini kembali tegak berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sampai kapan? Seperti ungkapan Bung Karno, "Di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia yang kekal dan abadi," tegasnya.

Bung Karno mengatakan, “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan  G O T O N G – R O Y O N G. Gotong-royong adalah pembantingan - tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat  semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama!”

Tekad kebersamaan, senasib sepenang-gungan inilah yang terus kita emban untuk menghadapi zaman. Sejak dilahirkan Indonesia mendapat berbagai tantangan dan persoalan berat, mulai dari seringnya bencana alam, korupsi, konflik sosial, gerakan separatisme dan radikalisme. Belum lagi tantangan modernisasi yang bergerak seiring dentang jam.

“Jangan lagi ada niatan mengganti ideologi bangsa, jangan lagi ada ungkapan, “Ah kamu Batak, ah kamu Irian, ah kamu Bugis, ah kamu Sunda, ah kamu Madura, ah kamu Jawa.” Jangan lagi ada. Perbincangan kita harus melompat jauh ke depan, tegas Ganjar.

Bangsa Cina dan India telah bergerak menuju Bulan, bangsa Amerika telah bersiap membangun perumahan di Mars. Meski saat ini kita belum mampu, jangan biarkan anak-anak kita hanya jadi penonton atas keberhasilan bangsa lain. Kita siapkan mereka saat ini, kita bekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan semangat toleran, agar mereka juga bisa sampai ke Bulan, ke Mars, dan anak-anak Galaksi lain.

Kita lah yang menanggung dosa besar jika mereka tertinggal. Kitalah yang menanggung dosa besar jika mereka diremehkan. Kita lah yang menanggung dosa besar jika mereka dilecehkan. Gold generation harus benar-benar tercipta di tahun 2040, 20 tahun lagi. "Mulai sekarang segala daya upaya, tenaga dan pikiran, jiwa dan raga kita kerahkan untuk masa depan cemerlang anak-anak kita. Kita rebut kembali kejayaan Majapahit, yang mampu ekspansi ke bagian bumi di Utara. Anak-anak kita harus jadi arus besar perubahan yang meluncur ke Utara, ke seluruh bagian di penjuru dunia. Inilah saatnya kita kirim arus balik, setelah sekian lama kita diterpa berbagai kemajuan dari belahan bumi lain,” harapnya.

Lebih lanjut dikatakan Ganjar, wahai pemuda, persiapkan mental dan akalmu. Jangan melempem berhadapan dengan bangsa lain, jangan lembek ketika ada yang mengejek. Kepalkan tekadmu, bulatkan semangatmu. ”Saudara-saudaraku, semua hal itu akan mampu kita hadapi dengan satu senjata, kebersamaan, “sebutnya.

Di akhir sambutan Gubernur menyampaikan, kita ini diciptakan atas satu jalinan sebagai sapu lidi, yang jika lepas ikatannya ambyar kebangsaan kita, ambyar negara kita, ambyarIndonesia Raya. Sejarah telah mengikat kuat kita, perasaan senasib sepenanggungan telah menyatukan kita, dan Pancasila telah mendasari kita sebagai bangsa dan negara yang besar. “Yakinlah kecemerlangan bangsa ini takkan lama lagi. Indonesia akan berjaya seribu windu lamanya. ”MERDEKA!, sebut Ganjar dalam akhir sambutannya. (Lks).

 

Ungaran, Bupati Semarang dr H Mundjirin ESSpOG, Minggu (18/8) pukul 10.00 wib, melepas Pawai Pembangunan dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-74 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di halaman depan, Gedung Serba Guna Alun-alun Bung Karno, Sidomulyo, Ungaran Timur. Tema pawai, “SDM Unggul Indonesia Maju”.

Turut mendampingi Bupati Mundjirin dalam pelepasan pawai ini, Sekda Drs Gunawan Wibisono MM, Anggota Forkompinda,   serta Kepala Satuan Perangkat Daerah (SKPD). 

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Semarang Sunarto, selaku Ketua Panitia dalam laporannya mengatakan, maksud diselenggarakannya kegiatan pawai pembangunan adalah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME dan kegembiraan dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-74 pada tanggal 17 Agustus 2019.

Sedangkan tujuannya, kata Sunarto, adalah meningkatkan semangat juang dalam prestasi mengisi Kemerdekaan RI dan memupuk semangat kebangsaan antar generasi untuk memperkuat ketahanan nasional.

Dikatakan lebih lanjut oleh Sunarto, pawai pembangunan diikuti Pelajar SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK, GTT/PTT Jajaran Pendidikan, Dinas/Instansi, BUMD, Mahasiswa, Organisasi Pemuda, dan Masyarakat. Sedangkan untuk jumlah peserta disebutkan Sunarto, peserta sebanyak 101 (seratus satu) peserta. Jumlah tersebut terdiri dari, Pejalan Kaki Pelajar sebanyak 25 kelompok (tiap kelompok berjumlah 75 orang),  Pejalan Kaki Umum sebanyak 48 kelompok, dan mobil hias dengan jumlah peserta sebanyak 28 unit mobil hias. 

“Karena Pawai Pembangunan dilombakan, maka ada unsur penilaian yang dilakukan oleh dewan juri. Diantaranya untuk pawai Pejalan Kaki yang dinilai unsur Semangat Kekompakan, dan Atraksi, serta Visualisasi/penampilan. Sedangkan untuk Mobil Hias-nya, yang dinilai unsur estetika, serta kesesuaian tema, “SDM UNGGUL INDONESIA MAJU, ”terangnya.   (Lks).

 

Ungaran : Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Barenlitbangda) Kabupaten Semarang, Rabu (14/8) pagi,  telah mengggelar acara kegiatan lomba Kreasi dan Inovasi Masyarakat (Krenova) di Aula Barenlitbangda Kabupaten Semarang. Acara dibuka pukul 09.00 oleh Kepala Barenlitbangda Kabupaten Semarang Ir Anang Dwinanta MM, dan ditutup pada  pukul 15.00 WIB.

Tampak hadir dalam acara pembukaan pada pagi hari tersebut, Kepala Barenlitbangda Provinsi Jawa Tengah Ir Eny Hari Wodowati MSi, Prof.Dr Saratri Wilonoyudho MSi (dari Akademisi), Dewan Perwakilan Daerah (DPD)/mantan Kepala Bappeda Kabupaten Semarang Drs Sjamani MM, dan dari komunitas kreatif (swasta). 

Acara diikuti sebanyak 10 (sepuluh) peserta/kelompok Krenova, dan 5 (lima) diantaranya adalah dari Universitas Ngudi Waluyo Ungaran. Dalam pelaksanaan lomba, tiap peserta diberikan waktu selama ± 10 menit untuk presentasi, dan ± 15 menit untuk tanya jawab, dengan Tim Penilai (Juri). Penilaian presentasi didasarkan dari unsur nilai Pengembangan, Penerapan, Orisinilitas, substasi, kebermanfaatan, dan Keberlanjutan di masyarakat. Sebagai pemenang dalam lomba krenova tahun 2019 yang masuk dalam 10 besar  adalah Universitas Ngudi Waluyo Ungaran. 

Kepala Bidang (Kabid) Penelitian dan Pengembangan Barenlitbangda Kabupaten Semarang, Ir Sukamto (selaku Ketua panitia Lomba Krenova) dalam laporannya mengatakan, maksud dan tujuannya diselenggarakannya lomba Krenova adalah untuk mendorong terbentuknya budaya kreatif dan inovatif masyarakat berdasarkan ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan tujuan untuk memberikan penghargaan kepada masyarakat Kabupaten Semarang. Baik secara perseorangan maupun kelompok yang mampu menghasilkan inovasi dan kreatifitas di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

 

Menurut Kabid Penelitian dan Pengembangan Barenlitbangda Sukamto, lomba krenova digelar setiap tahun sekali. (Lks).